Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Sepihak

Jadi kali ini aku mau cerita... Sebenernya nggak penting-penting banget, tapi berhubung ini momen langka, jadi harus diabadikan. Aku punya satu adik laki-laki, sebut saja namanya Alfa. Nah, dia itu tiisssss kayak es batu, pokoknya imej diluarnya  tuh cowok cool . Tapi kadang-kadang bisa sweet  juga.... Sejak kemarin, ada demo angkutan umum, jadi aku bingung mau pergi dan pulang naik apa. Akhirnya Alfa bilang ke Papah mau bawa motor (dia udah lancar banget naik motornya, tapi kalau aku, maju mundurin motor aja belum lancar 😣 ) Terus aku bilang , “De, anterin ke sekolah yah nanti, kan kamu bawa motor. Tapi berangkatnya pagi-pagi.” Dan Alfa jawab, “Iya, tapi kalo demo nya ga jadi,  naik angkot aja ya.” “Ya.” Jawabku, padahal sedikit jleb juga,  diturunin di sebrang jalan (kalo nggak ada demo) 😥. Esoknya, aku dan Alfa harus bersiap lebih pagi, takut macet. Dan akhirnya naik motor deh dibonceng dia. Dan ternyata pas sampai jalan raya, ADA AN...

Pissed-me-off Night

I just really dunno what to do. And here i am, typing abstractly ‘bout my stress, gloomy, and dark night. It’s been a hard day yet. But, when it comes to tiring things to think, everything seems to be more complicated. . . . I’m tired. Completely. All of me, with all my heart, body, brain and soul. Ok that’s sounds even more than hiperbole. . . . I just need to get rid of every pieces stuff in my head (read : all my anger and stressful thought that super duper really unimportant). . . . Overthinking. Overthinking kills your happiness. Overthinking is the biggest cause of unhappiness. Overthinking will lead to sadness. Those are some phrases that i found in the internet. Well, kinda true, right? . . . Sometimes, you know where’s your mistake, or what is it about, or why you do it. But, still, fixing it isn’t really easy. . . . You know, get tired of everything leads to every single disaster, for me. . . . Oh , really. I think all this m...

Fall in Cloud

Apa kamu pernah jatuh? Jatuh dari tangga, jatuh tersungkur, jatuh tersandung, dan banyak lagi. Sebagian besar jatuh menghasilkan sakit, bukan? Well , setidaknya itu yang aku rasakan. Tapi ada beberapa jatuh, yang kejadiannya sama mengejutkannya seperti jatuh-jatuh yang lain, tapi tak pernah bisa kita prediksi dimana ia bermuara, dan kemana ia akan membawa kita. Mungkin jatuh yang aku pikirkan, dengan yang kalian pikirkan berbeda. Atau, karena suatu kebetulan, atau , karena mungkin kita terhubung, jawabannya akan sama. Bermain dengan tebakkan. Apa kamu pernah berpikir untuk jatuh ke awan? Saat aku memikirkan tentang “jatuh” yang satu itu, aku jadi berpikir tentang jatuh ke awan. Karena, aku bahkan sama sekali tak pernah bisa menerka, dengan jelas, bagaimana rasanya menyentuh awan, berbaring di sana, atau setidaknya hanya menggapainya sedikit. Jatuh yang aku pikirkan (kadang) membuat hati berbunga, tapi (kadang) bisa membuat hati terpecah dan terpencar. Jatuh yang aku pikirkan b...

Seperti Pasir yang Terdampar Lagi, Lagi dan Lagi

Kini aku tengah terhuyung, di luasnya telapak samudera yang menggulung, melontarkan aku ke tempat tak terjamah. Aku masih dalam penjelajahan, mencari titik teraman dan ternyaman. Aku pernah singgah di suatu pulau. Mataku meleleh, terpaku pada indahnya cakrawala, di sana. Hanya di sana saja, kupikir. Seharusnya aku tidak berlayar lagi. Bukankah tempat yang membuatmu nyaman itu adalah rumah? Lalu ketika menemukannya, apakah ada hal yang dapat mendorongmu pergi? Aku tersentak, rasa penasaranku sangat tinggi rupanya. Aku mulai mengumpulkan perbekalan dan akhirnya pergi berlayar lagi. Kefanaan itu nyata. Itulah yang akan kau rasakan saat jauh dari rumah. Aku sendiri. Benar-benar sendiri. Bahkan nyanyian ombak pun terdengar seperti cemoohan bagiku. “Kau seharusnya tak pergi. Lihat! Kau sendirian sekarang.” Begitulah kedengarannya ditelingaku. Perjuanganku ternyata berujung. Lambaian daun kelapa terlihat dari kejauhan. Dibelailah aku oleh angin. Oh, sungguh memuaskan, bisikk...

Kacau.

Kadang ada suatu hari dimana semuanya serasa amat melelahkan. Kamu akan menjadi sangat perasa saat hari itu datang. Bahasa gaulnya sih, peka. Tapi, menurutku, tak semua yang dimaksud ‘peka’ itu baik. Kamu ingin bertanya kenapa? Aku rasa orang akan menyadarinya saat fase ini sudah hampir berakhir. Ya, lelah bisa membuatmu menjadi orang termenyebalkan sedunia. Tapi, menurutku, nggak ada satupun orang yang bisa memprediksi kapan dia lelah ( Well ,itu fakta). Jadi, ya mau bagaimana lagi. Saat hari itu datang, rasanya kita adalah orang termenyedihkan. Padahal sih, nyatanya tidak. Kamu akan lelah, selelah-lelahnya. Rasanya semua orang di sekitarmu terlalu egois. Padahal kamu hanya meminta sebuah dari sekarung yang mereka punya. Padahal kamu sedang butuh-butuhnya. ‘Kok nggak ada yah yang ngertiin aku?’ ‘Padahal kan dulu di posisi ini aku ngertiin mereka, bikin mereka nyaman.’ ‘Tapi kok sekarang malah gini?’ Kamu akan benci dengan semuanya. Mungkin kasarnya...muak? Dis...

Kecewa.

Kecewa. Kata yang sangat sering orang ucapkan untuk mendeskripsikan rasa marah dan sedih. Kata ini amat ringkas, tapi bermakna. Karena seseorang bisa kehilangan kepercayaan hanya karena kata ini. Ya, hanya karena kecewa. Aneh, kenapa ya kata ini sering sekali menghampiri? Atau mungkin aku yang terlalu peka? Atau aku yang terlalu memikirkan hal-yang-tak-perlu-dipikirkan? Siang itu matahari masih cerah. Sejujurnya hati ini memang sudah jengkel karena sesuatu. Tapi, ternyata ada saja alasan untuk bertambah jengkel. Harusnya kan aku biasa-biasa saja. Toh bukan aku saja yang terkena dampaknya. Harusnya aku nggak boleh jengkel. Memangnya ada yang akan peduli kalau aku jengkel? Memangnya situasi akan berubah kalau aku jengkel? Jujur, jengkel saat itu benar-benar useless . Terus kenapa harus diperpanjang sih, nab? Suka bingung... I  end up making people around me annoyed . Ya iyalah. Yang biasanya nyerocos panjang lebar tentang hal yang nggak penting, tiba-tiba diam. Cuma ngeres...