Seperti Pasir yang Terdampar Lagi, Lagi dan Lagi


Kini aku tengah terhuyung, di luasnya telapak samudera yang menggulung, melontarkan aku ke tempat tak terjamah. Aku masih dalam penjelajahan, mencari titik teraman dan ternyaman. Aku pernah singgah di suatu pulau. Mataku meleleh, terpaku pada indahnya cakrawala, di sana. Hanya di sana saja, kupikir.

Seharusnya aku tidak berlayar lagi. Bukankah tempat yang membuatmu nyaman itu adalah rumah? Lalu ketika menemukannya, apakah ada hal yang dapat mendorongmu pergi?

Aku tersentak, rasa penasaranku sangat tinggi rupanya. Aku mulai mengumpulkan perbekalan dan akhirnya pergi berlayar lagi.

Kefanaan itu nyata. Itulah yang akan kau rasakan saat jauh dari rumah. Aku sendiri. Benar-benar sendiri. Bahkan nyanyian ombak pun terdengar seperti cemoohan bagiku. “Kau seharusnya tak pergi. Lihat! Kau sendirian sekarang.” Begitulah kedengarannya ditelingaku.

Perjuanganku ternyata berujung. Lambaian daun kelapa terlihat dari kejauhan. Dibelailah aku oleh angin. Oh, sungguh memuaskan, bisikku.

Aku menapakkan kakiku. Langkah pertama yang ku ambil serasa menghidupkan jiwa. Tapi suara ombak dari kejauhan sedikit menamparku. “Kau yakin ini akan menjadi rumahmu?” Ah, mereka hanya iri aku menemukan persinggahan. Aku memulai hidup di sana.

Setelah dipikir-pikir, saat aku di rumah, dipenjelajahan, atau di sini, aku selalu sendirian. Lalu mengapa rasanya berbeda? Aku nyaman di rumah. Di sini juga, tapi kadang aku merasa ini bukan tempatku. Apa karena aku belum terbiasa? Atau aku takkan terbiasa, sampai kapanpun?

Hati ini begitu mengganjal. Kini aku tak merasa hidup lagi. Aku mendamba rasa itu. Rasa yang ku dapat saat berada di pulauku, rumahku.

Aku mengemas perbekalan lagi. Aku hendak kembali, tapi tak yakin. Apa ia akan merasa terhianati, lalu menolakku? Apa alam semesta  akan menghukumku yang tak tahu bersyukur ini?

Hatiku kosong. Aku hanya mengikuti kencangnya angin, derasnya ombak dan sesekali membuntuti ikan-ikan yang bergerombol.

Dug. Itu suara jantungku yang terhenti sejenak. Sekarang tepat di depan mataku, terlihat sebuah pulau yang tak bisa kuhilangkan dari ingatan, juga hati. Iya, ini rumahku.

Kebahagiaan ini tiada tara. Sungguh berkat ilahi, pikirku.

Tak ada yang bisa menjamin aku tak akan pergi lagi. Mungkin lain kali, aku akan dihukum lebih berat. Tapi kali ini, aku akan menghargainya. Perasaan terlindungi saat berada di sini, di rumah.

Pasir-pasir di lautan juga menjelajah, sepertiku. Tapi aku berharap, ketika mereka terdampar dan menemukan sebuah rumah, mereka akan menghargainya melebihi yang bisa aku lakukan sekarang. Sekalipun mereka terseret, ditarik kembali ke laut, aku berharap mereka akan terdampar lagi. Aku berharap mereka tak ragu untuk kembali. Cukuplah aku yang menyesal.


Aku harap kalian juga punya tempat untuk kembali, seperti aku mempunyai pulau ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

By all means

Sepihak

Pissed-me-off Night