Mungkin, Aku Tidak Sepenting Itu...

Penting adalah kata yang bersifat relatif alias tidak tetap. Tidak ada ukuran baku atau standar tertentu yang bisa dijadikan patokan untuk tingkat kepentingam sesuatu. Jadi, setiap orang mempunyai ukuran dan acuan masing-masing.

Pernahkah kamu merasa tidak penting bagi seseorang? Kalau aku sediri, ya kadang-kadang merasakan itu. Bukan sepenuhnya merasa tak penting, tapi lebih ke merasa... tidak sepenting apa yang aku pikirkan.

Ada fase dimana kita merasa baik-baik saja dengan atau tanpa seseorang. You'll live  your life well in this stage. Why? Because you're not expecting and depending on someone. Tapi juga ada fase dimana kamu mulai dekat, merasa nyaman, dan ingin bergantung. Agaknya fase ini akan membawa pada sesuatu yang berbahaya.

Fase berbahaya yang dimaksud adalah ketika kita merasa bahwa kita butuh orang tersebut. Ketika ini terjadi, kebanyakan orang akan jadi bodoh. Bodoh karena kita akan selalu menunggu kabar, walau orang yang dituju tak merasa perlu memberi kabar. Bodoh karena kita merindu dan melakukan hal-hal yang tidak jelas seperti stalking dan membuka chat-chat sebelumnya sambil memeriksa apakah ada chat baru atau tidak. Bodoh karena rasanya hidup jadi tak berasa kalau tak ada dia.

Nah sekarang, apa hubungannya penting dengan fase-fase tadi?

Berdasarkan pengalaman pribadiku, fase-fase tersebut berjalan sejajar dengan tingkat kepentingan seseorang. Semakin kita membutuhkan orang tersebut, semakin penting juga orang tersebut dalam hidup kita. 

Apakah semua orang yang penting dalam hidup kita selalu kita butuhkan?

Jawabannya menurutku... bisa ya dan tidak. Butuh di sini bisa ditafsirkan banyak hal, bukan? Ada orang yang butuh selalu ditemani dalam setiap keadaan, butuh diberi perhatian dan waktu yang cukup, butuh dichat 24/7. Tapi, ada juga orang yang hanya butuh mengetahui kabarnya saja dan berkata dalam hati 'oh, syukurlah, dia baik-baik saja', yang hanya butuh sesekali mendapat chat, yang hanya butuh  melihatnya dari kejauhan. Kita mungkin selalu butuh seseorang, tapi butuh punya banyak bentuk dan makna.

Aku kadang berekspektasi berlebihan. Membuat hidupku seakan penuh kesedihan padahal ya, biasa-biasa aja. Karena hal itulah, aku jadi sering menunggu. Menunggu waktu dimana orang yang aku butuhkan juga membutuhkanku. Walau hanya obrolan kecil atau permintaan tolong sederhana, itu tak masalah, karena aku butuh dia. Terbukti, kan? Membutuhkan seseorang bisa berujung kebodohan.

Sebenarnya, kita bisa menghindar untuk menjadi bodoh. Tapi, aku kadang memilih jadi bodoh. Bodoh ya, aku ini?

Memilih menjadi bodoh, memenuhi diri sendiri dengan harapan-harapan, bertengkar dengan waktu sambil menunggu. Ntah candu apa yang merasuki sampai logika tak mampu lagi mengendalikan pikiran.

Aku memang butuh dia, karena dia penting untukku. Tapi setelah jadi bodoh, aku sadar bahwa aku tidak sepenting itu untuknya.

Ah, ternyara teorinya benar. Penting itu relatif. Tak ada satupun yang dapat memastikan tingkat kepentingan satu orang dan lainnya berada dalam satu tingkatan yang sama atau tidak.

Dan lagi, kadang kita tak sadar bahwa kita sebenarnya butuh orang tersebut. Lalu setelah sadar dan menjadi bodoh, apa yang bisa dilakukan?

Aku kini masih menunggu, ntah sampai kapan. Aku ingin berhenti jadi bodoh. Apakah ada yang tahu caranya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

By all means

Sepihak

Pissed-me-off Night