A Choice Between Choices
Hidup memang selalu penuh dengan pilihan. Bahkan ketika kita sudah memilih, selalu ada beribu, bahkan berjuta pilihan yang menunggu, siap menerkam. Pilihan memang tak selalu menyeramkan. Tapi, ketakutan kadangkala hinggap dalam hati, bergentayangan. Ketakutan akan pilihan yang salah, atau barangkali takut menyakiti orang lain, atau mengecewakan orang-orang tersayang. Kata mungkin menjadi sangat tabu diucap, karena tak bisa ditebak kapan akan berasa manis atau pahit.
Hidup adalah pilihan. Betapa pepatah itu benar adanya. Memilih dan dipilih adalah cara hidup kita hingga saat ini. Banyak sekali contohnya, simple sekali menjelaskannya. Ketika kamu hendak jajan gorengan, kamu harus memilih antara gehu, cireng, bala-bala, dan tempe mendoan. Nah, ketika sudah punya sesuatu untuk dipilih, sekarang kita harus memikirkan apa yang kita mau. Cara mengetahuinya? Mudah saja sebenarnya. Cari saja faktor-foktor pendukungnya, yang membuat kamu menyukai hal tersebut. Misal, gorengan yang hangat lebih sedap menurutmu. Otomatis kamu akan memilih gorengan paling hangat, bukan? Atau mungkin, kamu tengah lapar-laparnya saat itu. Jadi kamu memilih tempe mendoan dengan tepung krispy yang paling banyak.
Yah, betapa hidup menjadikanmu lebih dan lebih rumit. Bagaimana bisa perkara membeli gorengan saja ada teorinya?
Memilih, sampai akhir hayat pun kita akan menjalaninya. Memilih berbuat baik atau jahat, minum dan makan sambil berdiri atau duduk, mengerjakan pr atau belajar ulangan, sampai masuk neraka atau surga. Semuanya, ada di tangan kita. Hanya tinggal dilaksanakan saja proses supaya dapat memilihnya. Tapi tak semudah itu. Ah, memang. Berbicara itu mudah, tindakannya sulit minta ampun.
Kini, aku dan teman-teman seperjuanganku (baca : siswa Daci kelas 12 tahun 2018) tengah berada dalam kondisi a choice between choices. Kenapa? Karena kami berada dalam fase kristis dan krusialnya ABG, perpindahan dari anak muda labil menuju pribadi yang lebih dewasa, dihadapkan pada pilihan yang tak ada habisnya, memaksa kami menjadi manusia yang sudah matang dan ajeg tapi pada nyatanya belum mampu.
Sebut saja pilihan yang bersliweran di pikiran kami selama kurang lebih tujuh bulan belakangan ini dengan nama : SELEKSI MASUK PERGURUAN TINGGI. Ini momok yang sedikit banyaknya membuatku sakit kepala, uring-uringan, banyak melamun, dan gangguan psikologi lainnya yang masih dalam batas wajar. Ntah dengan yang lain, tapi ini momen yang cukup horor untukku, setidaknya dalam 17 tahun belakangan ini.
Berharap pada ketidakpastian? Sungguh, ini cobaan berat sekali untukku. Terlebih aku termasuk kategori manusia yang disebut baperan. Sungguh, berharap pada yang tak pasti bisa berujung patah hati. Tapi sungguh, berharap itu bak es kelapa di tengah teriknya surya, menggoda sekali.
Ketika tenggelam dalam harap, harapan yang berujung berharap, kita akan terlanjur basah dengan semuanya, terlajur menaruh hati, terlanjur harap-harap cemas tapi nikmat, dan terlanjur terbuai dengan kata mungkin. Bukan, bukannya tak boleh berharap. Hanya saja, perkara satu ini harusnya ditangani oleh kepala, bukan hati.
Betapa logika kadang menghancurkan angan indah yang membelai dalam kenyamanan. Realistis menjadi keharusan dalam segala sistematis-sistematis peluang yang akan muncul. Namun sekali lagi, harap mengambil kemudi, membiarkan hati menjadi nakoda.
Tentu, tak segala hal harus diselesaikan dengan akal. Hati bukannya tak penting. Hanya saja, tak apakah jika membiarkan hati kita yang menuntun?
Hingga detik ini pun, masih nihil hasil pencarianku tentang perkara satu ini.
Kadang aku mencoba memberikan support terbaik kepada para sahabatku, meyakinkan mereka untuk tetap teguh memegang pilihan itu, mengingatkan mereka agar tetap menggenggam keyakinan bahwa rezeki sudah Allah atur, tak akan tertukar.
Bak pisau bermata dua, perasaan itu pun tiba. Bingung bukan kepalang aku dibuatnya. Tapi Alhamdulillah, mereka memberiku banyak sekali pencerahan untuk menentukan jawabannya. Ternyata proses memilih itu lama, butuh waktu, dan membingungkan.
Setelah melewati fase-fase itu, diringi dengan doa dan ibadah tentunya, serta bermodal searching jurusan, tanya-tanya alumni di kampus idaman, dan restu orang tua, ketetapan hati itu muncul dengan sendirinya. Ia tak kuat layaknya batu, malah mudah goyah kadangkala. Tapi, sekali lagi, Allah hadirkan perasaan itu. Ah, ini lah saatnya menguatkan hati. Karena rezeki takkan tertukar. Tak ada yang namanya salah pilih. Semuanya sudah tersusun apik dan rapih, walau hanya waktu yang dapat menjawabnya.
Intinya, tulisan ini sangat tidak konsisten. Diawali dengan teori gorengan, diselangi keluh kesah siswa tingkat akhir SMA, dan diakhiri dengan curhat.
Untuk teman-teman yang sedang melewati masa-masa ini, ayo kita sama-sama menguatkan hati. Asalkan lillahi ta'ala, apapun pilihannya pasti baik. Politeknik, sekolah kedinasan, atau perguruan tinggi, outcome-nya masih sama, yaitu kita sebagai manusia yang bermanfaat bagi agama dan bangsa. Ingat, rezeki tak pernah tertukar. Dan manusia hanya bisa ikhtiar dan tawakal, sisanya Allah yang menentukan.
Ayo, kawan. Jangan galau lagi! Kita perlu melangkah secepatnya, karena waktu tak pernah berhenti.
SEMANGAT!
*)ditulis oleh manusia yang baru saja menghilangkan kegalauannya 2 jam yang lalu
Hidup adalah pilihan. Betapa pepatah itu benar adanya. Memilih dan dipilih adalah cara hidup kita hingga saat ini. Banyak sekali contohnya, simple sekali menjelaskannya. Ketika kamu hendak jajan gorengan, kamu harus memilih antara gehu, cireng, bala-bala, dan tempe mendoan. Nah, ketika sudah punya sesuatu untuk dipilih, sekarang kita harus memikirkan apa yang kita mau. Cara mengetahuinya? Mudah saja sebenarnya. Cari saja faktor-foktor pendukungnya, yang membuat kamu menyukai hal tersebut. Misal, gorengan yang hangat lebih sedap menurutmu. Otomatis kamu akan memilih gorengan paling hangat, bukan? Atau mungkin, kamu tengah lapar-laparnya saat itu. Jadi kamu memilih tempe mendoan dengan tepung krispy yang paling banyak.
Yah, betapa hidup menjadikanmu lebih dan lebih rumit. Bagaimana bisa perkara membeli gorengan saja ada teorinya?
Memilih, sampai akhir hayat pun kita akan menjalaninya. Memilih berbuat baik atau jahat, minum dan makan sambil berdiri atau duduk, mengerjakan pr atau belajar ulangan, sampai masuk neraka atau surga. Semuanya, ada di tangan kita. Hanya tinggal dilaksanakan saja proses supaya dapat memilihnya. Tapi tak semudah itu. Ah, memang. Berbicara itu mudah, tindakannya sulit minta ampun.
Kini, aku dan teman-teman seperjuanganku (baca : siswa Daci kelas 12 tahun 2018) tengah berada dalam kondisi a choice between choices. Kenapa? Karena kami berada dalam fase kristis dan krusialnya ABG, perpindahan dari anak muda labil menuju pribadi yang lebih dewasa, dihadapkan pada pilihan yang tak ada habisnya, memaksa kami menjadi manusia yang sudah matang dan ajeg tapi pada nyatanya belum mampu.
Sebut saja pilihan yang bersliweran di pikiran kami selama kurang lebih tujuh bulan belakangan ini dengan nama : SELEKSI MASUK PERGURUAN TINGGI. Ini momok yang sedikit banyaknya membuatku sakit kepala, uring-uringan, banyak melamun, dan gangguan psikologi lainnya yang masih dalam batas wajar. Ntah dengan yang lain, tapi ini momen yang cukup horor untukku, setidaknya dalam 17 tahun belakangan ini.
Berharap pada ketidakpastian? Sungguh, ini cobaan berat sekali untukku. Terlebih aku termasuk kategori manusia yang disebut baperan. Sungguh, berharap pada yang tak pasti bisa berujung patah hati. Tapi sungguh, berharap itu bak es kelapa di tengah teriknya surya, menggoda sekali.
Ketika tenggelam dalam harap, harapan yang berujung berharap, kita akan terlanjur basah dengan semuanya, terlajur menaruh hati, terlanjur harap-harap cemas tapi nikmat, dan terlanjur terbuai dengan kata mungkin. Bukan, bukannya tak boleh berharap. Hanya saja, perkara satu ini harusnya ditangani oleh kepala, bukan hati.
Betapa logika kadang menghancurkan angan indah yang membelai dalam kenyamanan. Realistis menjadi keharusan dalam segala sistematis-sistematis peluang yang akan muncul. Namun sekali lagi, harap mengambil kemudi, membiarkan hati menjadi nakoda.
Tentu, tak segala hal harus diselesaikan dengan akal. Hati bukannya tak penting. Hanya saja, tak apakah jika membiarkan hati kita yang menuntun?
Hingga detik ini pun, masih nihil hasil pencarianku tentang perkara satu ini.
Kadang aku mencoba memberikan support terbaik kepada para sahabatku, meyakinkan mereka untuk tetap teguh memegang pilihan itu, mengingatkan mereka agar tetap menggenggam keyakinan bahwa rezeki sudah Allah atur, tak akan tertukar.
Bak pisau bermata dua, perasaan itu pun tiba. Bingung bukan kepalang aku dibuatnya. Tapi Alhamdulillah, mereka memberiku banyak sekali pencerahan untuk menentukan jawabannya. Ternyata proses memilih itu lama, butuh waktu, dan membingungkan.
Setelah melewati fase-fase itu, diringi dengan doa dan ibadah tentunya, serta bermodal searching jurusan, tanya-tanya alumni di kampus idaman, dan restu orang tua, ketetapan hati itu muncul dengan sendirinya. Ia tak kuat layaknya batu, malah mudah goyah kadangkala. Tapi, sekali lagi, Allah hadirkan perasaan itu. Ah, ini lah saatnya menguatkan hati. Karena rezeki takkan tertukar. Tak ada yang namanya salah pilih. Semuanya sudah tersusun apik dan rapih, walau hanya waktu yang dapat menjawabnya.
Intinya, tulisan ini sangat tidak konsisten. Diawali dengan teori gorengan, diselangi keluh kesah siswa tingkat akhir SMA, dan diakhiri dengan curhat.
Untuk teman-teman yang sedang melewati masa-masa ini, ayo kita sama-sama menguatkan hati. Asalkan lillahi ta'ala, apapun pilihannya pasti baik. Politeknik, sekolah kedinasan, atau perguruan tinggi, outcome-nya masih sama, yaitu kita sebagai manusia yang bermanfaat bagi agama dan bangsa. Ingat, rezeki tak pernah tertukar. Dan manusia hanya bisa ikhtiar dan tawakal, sisanya Allah yang menentukan.
Ayo, kawan. Jangan galau lagi! Kita perlu melangkah secepatnya, karena waktu tak pernah berhenti.
SEMANGAT!
*)ditulis oleh manusia yang baru saja menghilangkan kegalauannya 2 jam yang lalu
Semangat nab :)
BalasHapus